Korps Marinir TNI Angkatan Laut memberikan penghargaan kepada anggota Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI–Papua Nugini (PNG) Mobile Yonif 10 Marinir atas prestasi mereka selama Operasi Badai Kasuari yang berlangsung di Papua. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Panglima Korps Marinir, Letjen TNI (Mar) Endi Supardi, dalam sebuah upacara yang diadakan di Lapangan Apel Brigif 1 Marinir, Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, pada hari Jumat, 10 Juli 2026.
Keberhasilan dalam Tugas
Kepala Dinas Penerangan Korps Marinir, Kolonel Marinir Rana Karyana, menyatakan bahwa penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan prajurit dalam melaksanakan tugas operasi serta menjaga keamanan di wilayah perbatasan. Selama bertugas di Papua, Satuan Tugas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 10 Marinir melakukan berbagai operasi melawan kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).
Pencapaian yang Signifikan
Rana menjelaskan bahwa Korps Marinir berhasil melumpuhkan sejumlah anggota dan tokoh TPNPB-OPM, mendorong beberapa anggota kelompok bersenjata untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Selain itu, mereka juga berhasil merebut empat markas utama, menghancurkan 15 markas sektor, mengamankan 56 rumah kaki seribu, serta menyita berbagai barang bukti seperti senjata api, amunisi, alat komunikasi, atribut TPNPB-OPM, dan dokumen organisasi. Penghargaan yang diberikan mencakup kenaikan pangkat luar biasa (KPLB), kesempatan untuk mengikuti pendidikan, dan penugasan ke luar negeri bagi prajurit yang berprestasi.
Pangkormar juga menyerahkan Piagam Penghargaan Nomor 70/VII/2026 sebagai bentuk pengakuan resmi terhadap keberhasilan personel Satuan Tugas dalam Operasi Badai Kasuari. Menurut Rana, penghargaan ini merupakan pengakuan institusi terhadap dedikasi, disiplin, dan profesionalisme prajurit yang bertugas di daerah dengan risiko tinggi. Operasi pengamanan perbatasan di Papua tidak hanya menguji kemampuan tempur, tetapi juga memerlukan kesiapan fisik dan mental untuk menghadapi kondisi geografis yang sulit, medan pegunungan, serta tantangan logistik di wilayah terpencil.