Kelompok separatis bersenjata di Papua, yang dikenal dengan nama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB - OPM), memberikan tanggapan terhadap pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mengenai konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut. Mereka menekankan bahwa serangan yang dilakukan tidak ditujukan kepada warga sipil secara umum, melainkan kepada individu-individu yang mereka anggap sebagai mata-mata militer Indonesia.
Pernyataan TPNPB - OPM
Juru bicara TPNPB - OPM, Sebby Sambom, menegaskan bahwa dalam setiap operasi bersenjata, kelompoknya memang menargetkan orang-orang yang dicurigai sebagai agen intelijen. Sebby menjelaskan, "Kenapa mengapa TPNPB membunuh orang-orang yang dicurigai sebagai agen, meskipun mereka menilai mereka adalah sipil?"
Pandangan Terhadap Warga Sipil
Menurut Sebby, semua warga sipil yang berasal dari luar Papua dianggap sebagai bagian dari program pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk menghapus keberadaan masyarakat asli Papua. Ia menyatakan, "Dasar hukumnya jelas. Kami mengidentifikasi semua orang imigran Indonesia yang datang mengambil alih, menduduki tanah milik orang asli Papua." Sebby menambahkan bahwa keberadaan non-Papua di wilayah tersebut menjadi target utama pengusiran oleh TPNPB - OPM, karena mereka dianggap sebagai bagian dari kolonialisme yang merampas hak-hak masyarakat lokal.
Lebih lanjut, Sebby menjelaskan, "Jadi mereka semua yang imigran, mengklaim ‘kami adalah warga sipil’, pedagang, atau guru, atau pegawai segala macam, semua itu bagian dari kolonialisme dan pendudukan ilegal untuk merampas hak-hak orang pribumi di Papua."