Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan bahwa skor Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2026 telah mencapai angka 73,30, yang termasuk dalam kategori adaptif. Hasil survei ini mencerminkan keadaan integritas di sektor pendidikan di Indonesia.
Ketua KPK, Setyo Budiyanto, memberikan apresiasi terhadap hasil tersebut, "Kita berikan applause dulu untuk skor daripada SPI, luar biasa ya. Kita bersyukur ya skornya sudah cukup tinggi, posisinya adalah adaptif 73 poin sekian dibandingkan dua tahun sebelumnya 69,5 ya," ujarnya dalam acara Indeks Integritas Pendidikan Tahun 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Selasa (6/10).
Peningkatan dan Tantangan yang Masih Ada
Walaupun terdapat peningkatan pada skor SPI Pendidikan dibandingkan tahun 2024, Setyo menekankan bahwa masih ada beberapa daerah yang memiliki nilai SPI dalam kategori korektif, sehingga perbaikan masih diperlukan. "Saya berharap semua pihak tidak alergi manakala kemudian ada daerah tertentu yang kemudian dianggap masih kurang. Kesempatan untuk kita perbaiki," katanya.
Setyo juga menekankan pentingnya pencegahan korupsi yang harus dimulai dari ruang kelas untuk menghindari terjadinya tindak pidana korupsi. Ia mengakui bahwa pemerintah telah banyak melakukan pembangunan infrastruktur, tetapi pembangunan karakter generasi muda tetap harus menjadi fokus utama. "Kalau ini sudah kita lakukan, mudah-mudahan ini bisa memperkuat budaya dan menjaga serta mewariskan kepada generasi-generasi berikutnya," ucap Setyo.
Metodologi Survei dan Partisipasi Responden
Skor SPI Pendidikan diperoleh dari survei yang melibatkan 42.810 responden, termasuk peserta didik, murid, dan mahasiswa. Untuk tingkat SD, responden terdiri dari siswa kelas 4 dan 5 yang dianggap sudah mampu membaca dan menyimak pertanyaan. Sementara itu, untuk SMP dan sederajat melibatkan siswa kelas 7 dan 8, serta untuk SMA kelas 10 dan 11, dan mahasiswa semester 3 hingga 8. Survei ini juga melibatkan orang tua, khususnya untuk jenjang dasar dan menengah, serta tenaga pendidik dari instansi pendidikan yang terpilih.
Data dikumpulkan melalui tiga metode, yaitu secara online melalui pengisian kuesioner yang dikirim melalui WhatsApp dan email, Computer Assisted Web Interviewing (CAWI) untuk satuan pendidikan dengan keterbatasan, dan Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) yang dilakukan secara langsung oleh tim survei di lapangan. Dari total responden, terdapat 41.720 Sekolah Dasar Menengah dan 1.090 perguruan tinggi.
Setyo menambahkan, "Kita bersyukur skor daripada indeksnya sudah bagus, tinggal bagaimana memperbaiki yang lain."