Wednesday, 19 August 2026
Peristiwa

Korban Gempa NTT Meningkat Menjadi 71, Lebih dari 59 Ribu Orang Mengungsi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan penambahan jumlah korban jiwa akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur menjadi 71 orang, dengan lebih dari 59.000 warga mengungsi.

M
Maria Angelica
19 August 2026 1 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/Mega Tokan
Foto: ANTARA FOTO/Mega Tokan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, telah meningkat. Hingga Rabu, 19 Agustus 2026, total korban meninggal dunia tercatat sebanyak 71 orang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan dengan data sebelumnya. "Jumlah korban bertambah satu orang menjadi 71, yaitu di Kabupaten Nagekeo," ujarnya dalam konferensi pers daring pada Rabu sore.

Jumlah Pengungsi yang Signifikan

Berton menambahkan bahwa pihaknya terus berfokus dalam penanganan para pengungsi yang terdampak bencana. Saat ini, tercatat lebih dari 59.647 orang yang mengungsi, dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Manggarai, mencapai sekitar 20 ribu orang. Banyak warga yang memilih untuk mengungsi karena takut kembali ke rumah mereka, mengingat banyak bangunan yang rusak akibat gempa.

Gempa bumi susulan juga masih terus terjadi, yang menambah ketidakpastian bagi masyarakat. "Tadi berdasarkan pemutakhiran data yang sudah disampaikan oleh Bu Deputi dari BMKG, jadi ini menimbulkan jumlah total pengungsi yang banyak saat ini," kata Berton.

Distribusi Bantuan Logistik

Pemerintah berupaya menyalurkan kebutuhan logistik kepada warga yang terdampak. Hingga Selasa, 18 Agustus 2026, sebanyak 165 ton logistik telah dikirim melalui jalur udara. Total barang bantuan yang terkirim sejak bencana terjadi mencapai 398 ton. Wilayah Manggarai Timur menjadi salah satu daerah yang paling parah terdampak, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah mengalami kerusakan akibat gempa bermagnitudo 7,7 tersebut.

Berton menjelaskan bahwa pengiriman melalui jalur darat menjadi prioritas dalam penanganan di lapangan. Namun, proses distribusi logistik tidak dapat dilakukan dengan cepat karena kondisi geografis dan kerusakan pada beberapa ruas jalan. Oleh karena itu, pemerintah juga mengoptimalkan penggunaan transportasi laut untuk menjangkau daerah yang memerlukan dukungan logistik dalam jumlah besar. "Pada tanggal 18 Agustus, KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reo di Kabupaten Manggarai, membawa paket bantuan sembako, tenda keluarga, dan tenda pengungsi," jelasnya.

Namun, salah satu tantangan dalam distribusi logistik adalah banyaknya warga yang mengungsi secara mandiri, sehingga tim di lapangan kesulitan dalam menyebarkan bantuan tepat waktu. "Selain itu, akses ke desa-desa tidak mudah dan memerlukan waktu untuk dijangkau karena kondisi jalan yang tidak stabil," tutup Berton.

// Artikel Terkait