Monday, 22 June 2026
Peristiwa

Jakarta Bersiap Menyambut Usia Lima Abad dengan Berbagai Pembenahan

Memasuki tahun ke-499, Jakarta terus melakukan perbaikan untuk mewujudkan visi sebagai kota global yang berkelanjutan. Penataan infrastruktur dan pengelolaan sampah menjadi fokus utama dalam perjalana...

S
Saraswati Indira Alika
22 June 2026 1 pembaca
Foto: Pemprov DKI
Foto: Pemprov DKI

JAKARTA – Di usia ke-499, Jakarta tengah melakukan berbagai pembenahan untuk menyongsong era baru dalam perjalanan kota. Penataan wilayah, penguatan integrasi sistem transportasi publik, serta perbaikan dalam pengelolaan sampah menjadi langkah-langkah penting yang diambil Jakarta untuk mencapai status sebagai kota global yang inklusif dan berkelanjutan.

Rangkaian perayaan hari jadi tahun ini tidak hanya diwarnai dengan kegiatan seremonial. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan hasil perbaikan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, sekaligus mempersiapkan pembangunan jangka panjang menjelang usia lima abad kota.

Transformasi Melalui Kolaborasi

Suharini Eliawati, Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta serta Ketua Panitia HUT ke-499 Jakarta, mengungkapkan bahwa transformasi kota memerlukan dukungan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. “Menjelang usia ke-500 tahun, Jakarta terus berbenah dan bergerak maju. Dengan semangat kolaborasi, kita bersama-sama mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya pada Sabtu (20/6/2026).

Pembenahan Infrastruktur dan Konektivitas

Salah satu proyek pembenahan yang dilakukan adalah penataan Jalan H.R. Rasuna Said di Jakarta Selatan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meresmikan hasil penataan koridor tersebut pada Ahad (21/6/2026). Penataan sepanjang 3,8 kilometer ini mengakhiri keberadaan tiang monorel yang terbengkalai selama hampir dua dekade. Sebanyak 109 tiang dibongkar sejak Januari 2026 dan seluruh pekerjaan selesai dalam waktu sekitar lima bulan. Pemprov DKI juga melakukan perbaikan pada elevasi dan lebar jalan, saluran drainase, trotoar, ruang hijau, penerangan jalan, serta fasilitas untuk pejalan kaki.

Koridor ini kini juga menjadi lokasi untuk Hari Bebas Kendaraan Bermotor setiap Ahad dari pukul 05.30 hingga 09.00 WIB. “Rasuna Said telah rampung dan baru saja saya resmikan. Peresmian ini juga sebagai upaya menghadirkan infrastruktur yang mendukung mobilitas warga menuju Jakarta sebagai kota global,” kata Pramono.

Pada kesempatan yang sama, Halte Transjakarta Setiabudi resmi berganti nama menjadi Halte Setiabudi Integritas. Penamaan ini merupakan hasil kolaborasi Pemprov DKI dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, yang membawa pesan antikorupsi ke ruang publik yang dilalui masyarakat setiap hari. Perubahan nama diikuti dengan penyesuaian pada papan petunjuk, peta rute, dan pengumuman suara di dalam armada Transjakarta. Pramono berharap nilai integritas tercermin dalam kualitas pelayanan publik yang diberikan kepada warga.

Pembenahan konektivitas dilanjutkan dengan pencanangan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas. Infrastruktur yang dikenal sebagai Jembatan Donat ini akan menghubungkan MRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, Kereta Bandara Soekarno-Hatta, Transjakarta, dan LRT Jakarta. Proyek yang ditargetkan selesai pada akhir 2028 ini dirancang untuk mempermudah perpindahan antar moda transportasi serta meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas. “Kehadirannya akan meningkatkan konektivitas, keselamatan, dan kenyamanan pejalan kaki, sekaligus memperkuat integrasi antarmoda transportasi publik,” ungkap Pramono.

Selain berfungsi sebagai jalur penghubung, pedestrian deck diharapkan dapat menghidupkan ruang publik dan aktivitas ekonomi di kawasan Sudirman-Dukuh Atas. Pemprov DKI juga membuka peluang pembiayaan kreatif bersama sektor perbankan, badan usaha milik daerah, dan pemangku kepentingan lainnya agar pembangunan tidak hanya bergantung pada APBD.

Gerakan Pilah Sampah untuk Lingkungan yang Lebih Baik

Upaya menuju kota global tidak hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur. Pemprov DKI juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya. Komitmen ini diperkuat melalui Apel Siaga Pilah Sampah yang dipimpin Pramono bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, pada Ahad (21/6/2026). Gerakan ini sangat penting mengingat Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari.

Saat ini, TPST Bantargebang telah mendekati kapasitas maksimum dengan timbunan sampah rata-rata mencapai ketinggian sekitar 60 meter. Kondisi ini tidak dapat diatasi hanya dengan pola angkut dan buang. Melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber, rumah tangga, permukiman, sekolah, perkantoran, pasar, pusat perdagangan, dan kawasan usaha didorong untuk memisahkan sampah organik dan anorganik.

Pramono menyatakan bahwa sejumlah lingkungan warga telah mengembangkan berbagai cara pengolahan, mulai dari budidaya maggot hingga pemanfaatan sampah menjadi pupuk. Praktik ini perlu diperluas agar pemilahan tidak berhenti sebagai program sesaat. “Banyak RT dan RW yang telah lebih maju dari yang kami perkirakan. Karena itu, gerakan ini tidak boleh kendur dan harus terus diperluas agar menjadi budaya seluruh warga Jakarta,” tegasnya.

Zulkifli Hasan menilai bahwa keterlibatan masyarakat merupakan kunci keberhasilan dalam penanganan sampah. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk atau produk lain, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang. “DKI Jakarta tidak hanya menghadirkan regulasi, tetapi juga telah melakukan aksi secara masif hingga tingkat RT dan RW. Daerah lain dapat mencontoh langkah yang dilakukan Jakarta,” tambahnya.

Sebagai bentuk apresiasi dan untuk mendorong partisipasi warga, Pemprov DKI memberikan penghargaan kepada sejumlah RW terbaik di lima kota administrasi dan Kabupaten Kepulauan Seribu yang berhasil menerapkan pemilahan sampah dari sumbernya.

// Artikel Terkait