Saturday, 24 October 2026
Peristiwa

Jakarta Berambisi Menjadi Pusat Kegiatan Internasional untuk Mendorong Ekonomi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menjadikan kota ini sebagai pusat berbagai acara internasional, yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan dan menggerakkan perekonomian lokal. Berbag...

F
Farhan Hakim
23 October 2026 21 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan
Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki ambisi untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat berbagai kegiatan berskala internasional. Berbagai konser, festival, dan ajang olahraga yang diselenggarakan di kota ini dianggap mampu menarik wisatawan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa dampak positif tersebut terlihat dari pelaksanaan festival musik Pestapora dan konser The Weeknd pada bulan September lalu.

Pramono menjelaskan, "September lalu, kita menggelar festival Pestapora, dan pada saat yang bersamaan digelar pula konser The Weeknd selama dua hari di Jakarta International Stadium (JIS), yang menghasilkan perputaran ekonomi hampir Rp250 miliar hanya dalam kurun satu akhir pekan," saat berbicara di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, pada Jumat (23/10/2026).

Kegiatan Besar di Jakarta

Akhir pekan ini, Jakarta kembali menjadi tuan rumah bagi sejumlah acara besar, termasuk myBCA Jakarta Running Festival (JRF) yang diikuti oleh sekitar 37 ribu peserta dari 48 negara, dengan lebih dari 1.000 di antaranya merupakan pelari internasional. Acara ini sering disebut sebagai "Lebaran para pelari" dan berlangsung di kawasan Gelora Bung Karno. Selain itu, pada hari Sabtu (24/10/2026), kawasan yang sama juga akan menjadi lokasi konser musisi internasional Ye, atau Kanye West, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Jakarta menjadi satu-satunya kota di Asia Tenggara dan Oseania yang disinggahi Ye dalam rangkaian tur tahun ini. Kegiatan berskala internasional lainnya juga akan segera berlangsung, termasuk penampilan Guns N' Roses pada bulan November, diikuti oleh BTS pada 26, 27, dan 29 Desember 2026, serta Westlife pada Januari 2027. Pramono menambahkan, "Tidak hanya itu, pada bulan November kita akan menyambut Guns N' Roses, tanggal 26, 27, dan 29 Desember kita menyambut BTS, serta Westlife pada bulan Januari. Hal ini menandakan bahwa Jakarta kini telah menjadi episentrum perhelatan dan kreativitas di Indonesia."

Dampak Ekonomi dari Kegiatan Internasional

Menurut Pramono, dampak ekonomi dari acara besar tidak hanya berasal dari penyelenggara dan penjualan tiket, tetapi juga dari kehadiran pengunjung yang dapat menggerakkan sektor hotel, restoran, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Besarnya perputaran ekonomi juga terlihat dalam sejumlah agenda tahunan di Jakarta. Jakarta Fair 2026 di JIExpo Kemayoran mencatat transaksi sekitar Rp8,2 triliun dengan 6,1 juta pengunjung, sementara Festival Jakarta Great Sale membukukan transaksi sekitar Rp26,8 triliun.

Pramono menjelaskan, "Itulah sebabnya kami bertekad menjadikan Jakarta tuan rumah bagi lebih banyak ajang bertaraf internasional. Saya menyebutnya sebagai episentrum perhelatan (epicenter of events). Ketika sektor kreatif mampu menarik orang datang ke Jakarta, kami ingin manfaat ekonominya dapat dirasakan seluas-luasnya oleh masyarakat." Ia juga mengajak masyarakat dari berbagai daerah dan wisatawan mancanegara untuk datang menikmati berbagai kegiatan di Jakarta, dengan pernyataan, "Intinya adalah daripada pergi ke luar negeri, ke mana-mana, sudahlah datang ke Jakarta aja, belanja di Jakarta."

Aktivitas event yang melimpah menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif di Jakarta. Pramono menyatakan bahwa sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar Rp410 triliun atau hampir 11 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta. "Sektor ekonomi kreatif Jakarta menyumbang lebih dari Rp410 triliun rupiah, atau sekitar 11 persen dari PDRB daerah kami. Hal ini membuktikan bahwa kreativitas merupakan motor penggerak utama bagi perekonomian kita," ujarnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya memperkuat ekosistem tersebut, tidak hanya dengan mendukung acara berskala besar, tetapi juga dengan menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berkreasi, bertemu, dan berkolaborasi. Salah satu kawasan yang dijadikan contoh adalah Blok M, yang kembali menjadi destinasi populer, terutama di kalangan anak muda, dengan berkembangnya kuliner, musik, perdagangan, dan berbagai produk kreatif. "Saking populernya, masyarakat kerap menjulukinya sebagai 'Negara Blok M' atau 'Republik Blok M'," tambah Pramono.

Pramono juga menjelaskan bahwa salah satu kekuatan Blok M adalah konektivitas transportasi publik. Kawasan tersebut dapat dijangkau dengan Transjakarta dan MRT Jakarta, sehingga masyarakat lebih mudah datang tanpa menggunakan kendaraan pribadi. "Ini adalah bukti nyata bagaimana transportasi publik dan aktivitas kreatif dapat saling menguatkan," katanya.

Pemerintah Provinsi DKI kini menyiapkan pola serupa untuk diterapkan secara bertahap di kawasan lain, seperti Pasar Baru, Glodok Pecinan, dan Kota Tua. Pengembangan kawasan tersebut juga disiapkan seiring dengan perluasan jaringan MRT Jakarta ke arah utara. Pasar Baru direncanakan akan dikembangkan menjadi kawasan yang lebih hidup dengan kuliner dan aktivitas ekonomi hingga malam hari. "Kami akan menata Pasar Baru agar hidup selama 24 jam dengan berbagai sajian kuliner Nusantara. Harapan saya, Pasar Baru nantinya dapat menjadi semacam Myeongdong-nya Jakarta," tutup Pramono.

// Artikel Terkait