JAKARTA, iNews.id - Berbagai tantangan terhadap kualitas sumber air bersih di Indonesia terus meningkat. Air tanah dan air dari sistem perpipaan kini semakin berisiko tercemar akibat kebocoran pipa, banjir, serta adanya logam berat dan kontaminasi mikrobiologi. Hal ini mendorong perkembangan teknologi pengolahan air menuju sistem yang lebih adaptif dibandingkan dengan filter air konvensional.
Berbeda dengan metode penyaringan tradisional yang menerapkan satu teknik untuk berbagai jenis air, teknologi filtrasi terbaru menggunakan analisis kualitas air untuk menentukan metode pengolahan yang tepat. Pendekatan ini dianggap lebih efektif dalam menghasilkan proses pemurnian, mengingat setiap sumber air memiliki karakteristik pencemaran yang berbeda-beda.
Pengenalan Sistem Filtrasi Terintegrasi
Pada ajang Indonesia Building Technology (IBT) 2026 yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang, perusahaan teknologi pengolahan air asal Korea, FLAX, memperkenalkan sistem filtrasi terintegrasi. Sistem ini menggabungkan teknologi Point of Entry (POE) dan Point of Use (POU). Sistem POE bertugas untuk menyaring air saat pertama kali masuk ke dalam bangunan, sedangkan POU melanjutkan proses pemurnian hingga air siap digunakan atau dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Keunggulan Sistem Adaptif
Dengan mengadopsi teknologi yang lebih adaptif, diharapkan proses pengolahan air dapat lebih responsif terhadap berbagai jenis pencemaran yang mungkin terjadi. Hal ini sangat penting untuk memastikan ketersediaan air bersih yang aman dan berkualitas bagi masyarakat, terutama di daerah yang rawan terhadap pencemaran. Inovasi ini menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di Indonesia.