SURABAYA - Gus Rozin, yang merupakan calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mengungkapkan rasa hormatnya terhadap mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang telah disepakati dalam Muktamar ke-35 NU. Ia menegaskan bahwa mekanisme ini merupakan hasil keputusan dari para muktamirin.
“Ini merupakan keputusan Muktamar yang harus kita hormati bersama. Saya menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada seluruh muktamirin yang telah menjalankan proses ini dengan penuh tanggung jawab,” ungkap Gus Rozin pada Ahad (30/6/2026).
Perubahan Mekanisme Pemilihan
Sebelumnya, dalam Muktamar ke-35 NU, peserta sepakat untuk mengubah mekanisme pemilihan ketua umum PBNU dari sistem one man one vote menjadi mekanisme AHWA. Keputusan ini diambil melalui pemungutan suara setelah pembahasan di Komisi Organisasi tidak mencapai kesepakatan.
Gus Rozin menilai keputusan ini perlu dihormati sebagai bagian dari dinamika dan tradisi musyawarah yang ada dalam NU. Ia menjelaskan bahwa perubahan mekanisme pemilihan tidak hanya dilihat dari aspek teknis, tetapi juga dari proses musyawarah yang menghasilkan keputusan tersebut.
Pentingnya Musyawarah dalam Tradisi NU
Menurut Gus Rozin, demokrasi dalam tradisi NU tidak hanya diartikan melalui pemilihan langsung, tetapi juga melalui musyawarah, mufakat, dan penghormatan terhadap keputusan forum tertinggi organisasi. “Bagi saya, yang paling penting adalah bagaimana keputusan ini kita terima bersama dan kemudian kita jalankan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mekanisme yang telah disepakati tetap memberikan kesempatan kepada peserta Muktamar untuk berpartisipasi dalam penjaringan calon ketua umum PBNU. Dalam mekanisme ini, peserta Muktamar akan melakukan pemungutan suara untuk memilih hingga lima calon ketua umum yang memenuhi syarat. Lima nama yang mendapatkan suara terbanyak akan ditetapkan sebagai calon ketua umum PBNU untuk kemudian dipilih melalui mekanisme AHWA.
“Cabang dan wilayah tetap memiliki kewenangan untuk ikut menentukan lima nama calon. Jadi, menurut saya, ini bukan mencederai nilai-nilai demokrasi. Ada mekanisme representasi dan musyawarah yang tetap berjalan,” tutup Gus Rozin.