Francesca Albanese, yang menjabat sebagai Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki, mengajak masyarakat untuk menunjukkan keberanian dalam menolak kehadiran mantan tentara Israel yang diduga terlibat dalam kejahatan di Gaza. Ia menegaskan bahwa kepentingan pariwisata dan ekonomi tidak seharusnya mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.
Pentingnya Menentukan Sikap
Albanese secara khusus menantang Indonesia, termasuk masyarakat Bali yang merupakan salah satu destinasi wisata internasional, untuk mengambil sikap terkait isu ini. Ia mempertanyakan apakah potensi kehilangan wisatawan harus membuat masyarakat menerima kehadiran individu-individu yang diduga terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap rakyat Palestina. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan, “Apakah pariwisata Indonesia akan dirugikan jika kita tidak mengakomodasi tentara yang tanpa sedikitpun penyesalan telah melakukan kejahatan di Gaza?”
Walaupun ia mengakui bahwa penolakan terhadap wisatawan tertentu dapat berdampak pada ekonomi, Albanese menekankan bahwa masyarakat perlu mempertimbangkan nilai-nilai yang mendasari keputusan mereka. “Apakah kehilangan 1.000 atau bahkan 100 ribu wisatawan akan merusak perekonomian? Mungkin, ya. Tetapi bagi saya, nilai-nilai lebih penting daripada uang,” ungkapnya.
Peran Masyarakat dan Industri Pariwisata
Albanese menyatakan bahwa isu ini bukan hanya urusan pemerintah, melainkan juga melibatkan pelaku industri pariwisata, pemilik restoran, dan masyarakat luas. Mereka memiliki pilihan untuk menentukan apakah mereka akan mengambil keuntungan dari orang-orang yang diduga terlibat dalam kejahatan internasional. Ia memberikan contoh situasi di Italia, di mana masyarakat memasang spanduk bertuliskan, “Tidak ada tempat bagi genosida di sini,” yang menunjukkan sikap tegas terhadap pelanggaran kemanusiaan.
Ia menekankan bahwa sikap semacam itu dapat menjadi pernyataan publik yang kuat bahwa tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan tidak dapat diterima. “Menurut saya, ini adalah pilihan yang harus kita ambil,” kata Albanese.
Harapan untuk Perubahan
Albanese menjelaskan bahwa tujuannya bukan untuk menanamkan kebencian terhadap semua warga Israel, melainkan untuk mendorong perubahan agar kejahatan terhadap rakyat Palestina tidak terulang. Ia berharap agar individu yang pernah bertugas di militer dapat merefleksikan tindakan mereka dan menyadari kesalahan yang mungkin telah dilakukan. “Saya tidak menginginkan itu. Saya menginginkan perubahan,” ujarnya.
Albanese juga menekankan pentingnya mencegah terulangnya penderitaan rakyat Palestina, dengan harapan bahwa ini akan menjadi kejahatan terakhir yang dibiarkan terjadi. “Saya ingin ini menjadi genosida terakhir yang dibiarkan terjadi oleh umat manusia,” tegasnya.
Ia menyoroti tanggung jawab dunia usaha, termasuk industri pariwisata, untuk tidak mengambil keuntungan dari tindakan yang dihasilkan oleh genosida. “Jika saya terlibat dalam perdagangan, saya juga tidak ingin memperoleh keuntungan dari kekayaan yang dihasilkan oleh genosida,” jelasnya.
Pernyataan Albanese sangat relevan bagi Bali, yang dikenal sebagai tujuan wisata internasional, dan akan menerima berbagai pengunjung dari seluruh dunia. Namun, seruannya untuk menolak mantan tentara Israel yang diduga terlibat dalam kejahatan harus dibedakan dari penolakan terhadap seluruh warga Israel berdasarkan kewarganegaraan. Dugaan keterlibatan seseorang dalam kejahatan internasional perlu diperiksa berdasarkan bukti yang ada.
Di sisi lain, penegakan hukum oleh aparat Indonesia harus memiliki dasar hukum dan yurisdiksi yang jelas. Pernyataan Albanese merupakan seruan moral agar masyarakat tidak mengabaikan dugaan pelanggaran terhadap rakyat Palestina, bukan penetapan bersalah terhadap setiap mantan anggota militer Israel.