JAKARTA – Media sosial kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Setiap hari, pengguna dihadapkan pada beragam notifikasi, video pendek, foto, komentar, dan informasi yang terus menerus muncul di layar smartphone mereka. Meskipun memberikan kemudahan, penggunaan media sosial juga dapat memengaruhi kondisi psikologis penggunanya.
Dokter dan influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, menyatakan bahwa penggunaan media sosial dapat berhubungan dengan munculnya kecemasan atau anxiety serta gejala depresi. Hal ini terutama terjadi ketika pengguna merasa lelah setiap kali membuka platform tersebut. “Bagi kalian yang sedang merasa lelah setiap melihat media sosial, detoks media sosial bisa menurunkan gejala depresi, kecemasan, dan perbaikan kualitas hidup secara keseluruhan,” jelas dr. Adam dalam utas di akun Threads miliknya, yang dikutip pada Minggu (9/8/2026).
Rangsangan Berlebih di Media Sosial
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah banyaknya rangsangan yang diterima oleh pengguna saat berselancar di media sosial. Dalam waktu singkat, pengguna dapat berpindah dari satu video ke video lainnya, membaca komentar, melihat foto, menerima notifikasi, hingga mengikuti berbagai informasi yang terus diperbarui. Semua ini dapat menyebabkan overstimulasi yang berdampak negatif pada kesehatan mental.
Pentingnya Detoks Media Sosial
Dengan banyaknya tekanan yang ditimbulkan oleh aktivitas di media sosial, detoksifikasi dari platform tersebut menjadi penting. Mengurangi waktu yang dihabiskan di media sosial dapat membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk menyadari dampak yang ditimbulkan dan mempertimbangkan untuk melakukan detoksifikasi media sosial.