Christo Popov, pemain bulu tangkis asal Prancis, tidak membiarkan kekalahan tipisnya di babak kedua Kejuaraan Dunia BWF sebelumnya menghancurkan semangatnya. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai pendorong untuk meraih kesuksesan dalam 12 bulan ke depan. Tahun lalu, Popov hampir mengalahkan unggulan teratas, Shi Yu Qi, di babak 16 besar di Paris, namun Shi berhasil bertahan dan merebut gelar juara. Dari pengalaman tersebut, Popov mengakui banyak pelajaran berharga yang ia petik.
Sejak saat itu, Popov menjadi salah satu pemain yang paling menonjol di sirkuit bulu tangkis. Ia mencetak sejarah bagi Prancis dengan memenangkan HSBC BWF World Tour Finals, meraih gelar Kejuaraan Eropa, memimpin timnya ke final Piala Thomas, serta memenangkan turnamen Super 750 pertamanya di Jepang. Dengan prestasi yang mengesankan sepanjang tahun ini, Popov kini menjadi salah satu favorit untuk edisi 2026.
Keyakinan dan Ambisi di Kejuaraan Dunia
Popov menyatakan keyakinannya terhadap peluangnya di Kejuaraan Dunia mendatang. “Saya merasa baik. Saya tahu ini bisa menjadi turnamen yang bagus untuk saya, tetapi pada saat yang sama, banyak pemain hebat yang juga bersaing. Banyak orang bisa menjadi juara dunia, dan undiannya sangat ketat,” ujarnya. Ia berharap bisa memanfaatkan momen ini untuk meraih kesuksesan.
“Energinya tinggi, dan kami juga berada di tim yang sangat baik. Kami benar-benar ingin meraih medali tunggal putra pertama kami. Kami bertiga adalah pemain tunggal putra yang luar biasa dengan level permainan yang tinggi, dan sekarang ini hanya akan menjadi pertandingan olahraga,” tambahnya.
Pelajaran dari Pertandingan Sebelumnya
Popov juga merenungkan seberapa besar pengaruh pertandingan melawan Shi Yu Qi terhadap kemampuannya. Ia menyebutkan, “Pertandingannya sangat ketat dan setelah itu dia menjadi juara dunia. Ada banyak kenangan indah dari sana dan mungkin beberapa pengalaman yang bisa saya ambil. Jika saya bertemu dia lagi, saya yakin bisa tampil lebih baik.”
Ia merasa bahwa setiap pertandingan sangat ketat, tetapi hal itu menunjukkan bahwa ia juga memiliki peluang untuk menang. “Setiap orang yang bermain melawannya memiliki peluang, dan itu hanya tentang detail. Olahraga mengajarkan kita bahwa terkadang kita kalah, tetapi selama kita memperhatikan semua detail, kita telah melakukan yang terbaik,” jelasnya.
Ketika ditanya tentang tahun ini, Popov mengakui bahwa meski ia mengalami beberapa kemunduran, ia lebih memilih meraih gelar daripada hanya mencapai semifinal. “Saya lebih suka tahun di mana saya memenangkan gelar meskipun mengalami beberapa kekalahan di babak awal daripada hanya berada di perempat final atau semifinal,” ungkapnya.
Popov merasa bahwa ia lebih percaya diri dan lebih mampu menerima kekalahan sekarang dibandingkan sebelumnya. “Saya tahu bahwa saya akan mengalami pasang surut, dan sekarang lebih mudah bagi saya untuk menerima kekalahan di babak pertama. Selama saya memberikan yang terbaik, saya tidak menyesal,” katanya.
Menjelang Kejuaraan Dunia, ia mengaku akan lebih fokus dan berusaha memberikan penampilan terbaiknya. “Saya tahu bahwa ini adalah salah satu turnamen terpenting sejak Final Tur Dunia, dan saya perlu lebih fokus,” tuturnya.
Popov percaya bahwa kemenangan di World Tour Finals telah membuktikan kemampuannya untuk meraih kemenangan di turnamen besar. “Saya sudah pernah melakukannya sekali, jadi saya tahu saya bisa mengulanginya,” ujarnya. Ia juga menantikan dukungan dari keluarganya, terutama dari ayahnya yang telah mempersiapkan tim dengan baik untuk menghadapi Kejuaraan Dunia ini.
“Kami adalah bagian dari Kejuaraan Dunia ini bersama-sama, dan menang atau kalah, kami melakukannya bersama-sama,” tutupnya.