Sunday, 14 June 2026
Peristiwa

Bersandar pada Nilai dan Institusi, Bukan Figur Kekuasaan

Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, mengingatkan pentingnya kembali pada nilai dan institusi dalam menghadapi krisis tata kelola, alih-alih mengandalkan sosok kekuasaan.

G
Gilang Bagas Baskara
14 June 2026 3 pembaca
Bersandar pada Nilai dan Institusi, Bukan Figur Kekuasaan
Foto: Dok Istimewa

Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN), Sudirman Said, menyerukan kepada para pengurus negara untuk lebih waspada terhadap krisis dalam tata kelola dengan tidak lagi mengagungkan sosok kekuasaan, melainkan kembali bersandar pada nilai dan institusi yang ada. Dalam sebuah pernyataan, ia menyampaikan ajakannya dengan kalimat sederhana: "jangan bersandar pada godfather, bersandarlah pada God."

Makna di Balik Istilah Godfather

Sudirman menjelaskan bahwa istilah godfather yang ia gunakan bukan hanya merujuk pada tokoh bos kartel dalam film, tetapi lebih kepada karakteristik kekuasaan yang terpusat pada satu individu. Ia menyebut beberapa nama yang pernah berkuasa dan terkenal di masanya, seperti Pablo Escobar, Al Capone, Don Corleone, dan Hitler, yang pada akhirnya akan berlalu seiring waktu.

"Para godfather memudar, sementara tatanan yang baik justru menetap. Karena itu kesetiaan kita semestinya pada nilai yang abadi, bukan pada figur yang fana," ungkap Sudirman dalam acara BIMTEK Anggota DPRD PKS Se-Kalimantan, yang berlangsung pada Sabtu (13/6/2026) di Jakarta.

Politik dan Orientasi Jangka Panjang

Menurut Sudirman, daya tarik dari personifikasi kekuasaan semakin menguat ketika politik kehilangan arah dalam jangka panjang. Ia mengacu pada pandangan ekonom Dambisa Moyo dalam bukunya yang berjudul Edge of Chaos, yang menilai bahwa politisi saat ini lebih fokus pada kemenangan pemilu ketimbang menjaga kesehatan jangka panjang negara. Hal ini, menurut Moyo, menciptakan situasi mediokrasi di mana kepentingan jangka pendek mendominasi, menggantikan kebijakan yang lebih substansial.

"Di ruang yang miskin gagasan jangka panjang itulah sosok menggantikan sistem, dan loyalitas personal menggeser akuntabilitas publik," kata Sudirman, menegaskan pentingnya kembali pada nilai-nilai yang lebih mendasar dalam pengelolaan kekuasaan.

// Artikel Terkait