Wednesday, 09 September 2026
Olahraga

An Se Young Terus Mendominasi Meski Ada Perubahan Sistem Penilaian

Pemain bulu tangkis nomor satu dunia, An Se Young, kembali menunjukkan performa mengesankan dengan mengalahkan Tomoka Miyazaki di final China Masters, menegaskan prediksi bahwa dominasi dirinya akan b...

D
Daniel Saputra
07 September 2026 49 pembaca
Tomoka Miyazaki-An Se Young/[Foto:AP]
Tomoka Miyazaki-An Se Young/[Foto:AP]

Pemain bulu tangkis peringkat satu dunia, An Se Young, sekali lagi menunjukkan performa luar biasa yang membuat Jepang merasa putus asa. Ketika Tomoka Miyazaki, yang dianggap sebagai harapan bulu tangkis putri Jepang, mengalami kekalahan telak, muncul prediksi bahwa dominasi An Se Young akan terus berlanjut meskipun ada perubahan sistem penilaian menjadi 15 poin.

Pada tanggal 6 (waktu Korea), An Se Young berhasil meraih kemenangan meyakinkan dengan skor 2-0 (21-17, 21-6) hanya dalam waktu 45 menit melawan Miyazaki, yang berada di peringkat 9 dunia, dalam final tunggal putri Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) Tur Dunia China Masters (Super 750) yang berlangsung di Shenzhen, China. Dengan hasil ini, An Se Young memperpanjang rekor head-to-headnya melawan Miyazaki menjadi 8-0 dan meraih gelar China Masters untuk ketiga kalinya berturut-turut.

Dominasi di Pertandingan

Miyazaki sempat mampu memberikan perlawanan di game pertama hingga batas tertentu, dengan berhasil mengejar ketertinggalan melalui pertukaran poin di awal permainan. Namun, setelah pertengahan permainan, An Se Young mengambil alih kendali. Selisih poin yang semula 10-15 semakin melebar, dan meskipun Miyazaki berusaha keras, ia akhirnya kalah di game pertama dengan skor 17-21.

Pertandingan kedua berlangsung dengan dominasi penuh dari An Se Young. Ia memberikan tekanan yang kuat sejak awal, dan Miyazaki mengalami kekalahan beruntun dengan delapan poin yang mengejutkan. Serangan Miyazaki sering kali terhalang oleh pertahanan An yang sangat baik, dan kesalahan demi kesalahan terus terjadi dari pihak Miyazaki yang terlihat frustrasi. Ia tidak dapat mengembalikan momentum, dan pertandingan berakhir dengan selisih skor yang mencolok.

Harapan dan Kekecewaan Jepang

Bagi Jepang, hasil ini mengejutkan sekaligus mengecewakan. Miyazaki sebelumnya berhasil mengalahkan pemain peringkat dua dunia, Wang Ziyi, dengan skor 2-0 (21-19, 23-21) di semifinal. Tomoka Miyazaki, yang merupakan bintang muda Jepang, telah meraih gelar juara dunia junior dan menjuarai Kejuaraan Seluruh Jepang saat masih di bangku SMA. Meskipun ia berhasil mengalahkan Wang Ziyi, hasil di final memicu kekecewaan di Jepang, dengan media lokal mencatat bahwa kesenjangan antara An Se Young dan Miyazaki masih sangat besar.

Media Jepang, Sports Hochi, melaporkan bahwa "Miyazaki yang berusia 20 tahun mengalami kekalahan telak 0-2 melawan pemain nomor satu dunia An Se Young, dan menjadi runner-up di China Masters." Para penggemar yang membaca laporan tersebut berkomentar bahwa meskipun di game pertama tampak ada harapan, An Se Young seolah belum menunjukkan kemampuan terbaiknya, sehingga peluang Miyazaki untuk menang sangat kecil.

Beberapa penggemar juga mengungkapkan kekhawatiran terkait sistem 15 poin yang sedang dibahas untuk diterapkan di masa depan, dengan menyatakan, "Di game kedua, mungkin karena masalah stamina, pertandingan itu sendiri tidak dapat dimenangkan." Mereka menambahkan, "Bahkan jika sistem berubah ke 15 poin, jika An Se Young bermain lebih agresif sejak awal, selisih poin tampaknya akan semakin melebar." Pandangan ini bertentangan dengan harapan bahwa pemain ofensif akan lebih unggul dibandingkan An Se Young yang defensif setelah perubahan sistem.

Di Jepang, ekspektasi terhadap Miyazaki meningkat setelah ia mengalahkan Wang Ziyi, meskipun kritik terhadapnya beberapa minggu lalu menyatakan bahwa ia "hanya mendapatkan perhatian karena penampilannya." Namun, pandangan hati-hati muncul kembali, dengan pernyataan bahwa "pemain muda yang benar-benar terbangun akan langsung menonjol, tetapi masih terlalu dini untuk menilai." Meskipun demikian, fakta bahwa seorang pemain berusia 20 tahun mampu mengalahkan pemain peringkat dua dunia dalam turnamen Super 750 dan mencapai final adalah prestasi yang tidak dapat diabaikan.

Namun, An Se Young terus menunjukkan keunggulannya. Hal ini menjadi alasan meningkatnya frustrasi di Jepang, karena tampaknya performa sempurna An Se Young tidak akan terpengaruh oleh penerapan sistem penilaian 15 poin.

// Artikel Terkait