GRESIK – Sejak 18 Agustus 2026, akses transportasi laut dari Pulau Bawean menuju Gresik, Jawa Timur, terhenti akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi. Hal ini mendorong warga setempat untuk meminta pemerintah dan operator menyediakan armada yang lebih mampu beroperasi di perairan Bawean, termasuk KMP Drajat Paciran.
M Iqbal Saymima, Sekretaris Pemuda Bawean Gresik (PBG), menyampaikan bahwa warga Bawean mengalami kesulitan dalam melakukan perjalanan ke Gresik. Kapal Ekspress Bahari, yang biasanya menjadi salah satu moda transportasi utama, tidak dapat berlayar karena tingginya gelombang. “Sejak 18 Agustus tidak ada kapal yang berlayar dari Bawean ke Gresik. Ekspress Bahari tidak bisa menembus ombak tinggi,” ungkap Iqbal.
Permintaan untuk KMP Drajat
Selama hampir seminggu, hanya satu kali pelayaran yang dilakukan menggunakan kapal Gili Iyang. Namun, saat ini baik Ekspress Bahari maupun Gili Iyang tidak dapat beroperasi karena kondisi cuaca yang masih buruk. Menurut Iqbal, terhentinya pelayaran ini menunjukkan bahwa masalah konektivitas Bawean tidak hanya terkait dengan ketersediaan kapal, tetapi juga kemampuan armada dalam menghadapi kondisi perairan saat cuaca memburuk.
Oleh karena itu, PBG mendorong PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) untuk mengoperasikan KMP Drajat Paciran di jalur Paciran-Bawean. Kapal ini dianggap sebagai alternatif untuk menjaga konektivitas masyarakat ketika armada penumpang reguler tidak dapat berlayar. “Kami mendorong agar KMP Drajat Paciran segera dialihkan ke Bawean dan dijadikan layanan reguler atau permanen,” kata Iqbal.
Kontrak dan Harapan Warga
Menurut Iqbal, ada peluang untuk pengalihan tersebut karena kontrak pengoperasian KMP Drajat pada rute Paciran-Bahaur, Kalimantan, akan berakhir pada 31 Agustus 2026. PBG berharap kapal tersebut tidak kembali ke rute sebelumnya dan dialihkan untuk memperkuat konektivitas Pulau Bawean dengan daratan Gresik. “Kontrak KMP Drajat Paciran-Bahaur akan berakhir 31 Agustus. Ini momentum bagi kita untuk memperjuangkan agar kapal tersebut dialihkan ke Bawean,” jelasnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Gresik, Khusaini, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini belum ada kapal yang dapat melayani penyeberangan Bawean-Gresik karena gelombang masih tinggi. “Memang belum ada kapal karena ombak masih besar,” ujarnya. Mengenai kemungkinan kapal Ekspress Bahari dan Gili Iyang beroperasi kembali, Khusaini menyatakan bahwa persoalannya masih terganjal oleh kondisi cuaca.
Khusaini juga menjelaskan bahwa KMP Drajat Paciran saat ini masih berada di Bahaur, Kalimantan, dan belum mendapatkan izin untuk berlayar sejak Rabu lalu karena cuaca yang tidak mendukung. “Drajat Paciran posisi di Bahaur, Kalimantan. Belum dapat izin layar dari kemarin Rabu,” katanya.
Ketika ditanya tentang kemungkinan pemerintah menyiapkan armada alternatif untuk mengatasi gangguan transportasi laut menuju Bawean, Khusaini menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan koordinasi dengan operator pelayaran. “Ini masih koordinasi dengan DLU,” ujarnya. PBG berharap koordinasi tersebut dapat segera menghasilkan solusi konkret bagi masyarakat Bawean.
Menurut Iqbal, masalah transportasi laut tidak bisa diselesaikan secara temporer setiap kali cuaca buruk, melainkan memerlukan armada yang dapat memberikan kepastian layanan. Oleh karena itu, PBG kembali mendorong agar KMP Drajat Paciran dimanfaatkan sebagai armada reguler rute Paciran-Bawean setelah kontraknya di rute Bahaur berakhir pada 31 Agustus mendatang. “Jangan menunggu sampai masyarakat kembali terisolasi setiap kali cuaca buruk. KMP Drajat harus segera dipermanenkan untuk rute Bawean,” tegas Iqbal.