Chou Tien Chen, di usianya yang ke-36, telah mencetak sejarah sebagai peraih medali tunggal putra tertua dalam Kejuaraan Dunia. Di sampingnya, Victoria Kao, fisioterapis yang telah mendampinginya dalam perjalanan kariernya, selalu ada untuk memberikan dukungan.
Setiap kali Chou meraih poin, Victoria langsung mengangkat tangannya ke udara. Bahkan saat Chou mengalami kekalahan, ia tetap duduk tegak di tepi kursi, menyaksikan dengan penuh perhatian, dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya. Sikap positif ini tampaknya selalu menyertainya, meskipun papan skor tidak berpihak pada Chou. Saat jeda, Victoria segera berdiri dan berlari ke arahnya, seolah menangani situasi darurat medis, tanpa waktu untuk bersantai atau menyerah pada skor yang tidak menguntungkan.
Pada Sabtu siang di Stadion Indoor Indira Gandhi, Chou berhadapan dengan Kodai Naraoka, pemain berusia 25 tahun, dalam semifinal Kejuaraan Dunia. Selama 36 menit, Chou menunjukkan kemampuannya untuk melanjutkan perjalanan luar biasa ini. Ia berhasil memenangkan gim pertama dengan skor 21-17, setelah mampu bersaing hingga akhir sebelum Naraoka melakukan kesalahan di poin-poin krusial. Namun, tantangan baru muncul saat Naraoka, yang lebih muda 11 tahun, mulai mengambil alih permainan, memenangkan gim kedua dengan skor 21-11 dan melanjutkan dominasi di gim penentu dengan skor 21-10. Chou terlihat kelelahan, dan meskipun berusaha keras, ia tidak dapat menghentikan laju Naraoka.
Rekor yang Dicapai dan Makna di Baliknya
Usahanya untuk menjadi pemain tunggal putra tertua yang mencapai final Kejuaraan Dunia berakhir di semifinal. Meskipun demikian, Chou tetap mencatatkan rekor sebagai peraih medali tunggal putra tertua dalam sejarah Kejuaraan Dunia pada usia 36 tahun dan 225 hari. Ini adalah medali perunggu kedua yang diraihnya, setelah medali pertamanya pada tahun 2022. Namun, bagi Victoria, angka-angka tersebut tidak terlalu penting. “Ini sihir. Mukjizat,” ujarnya dengan penuh kekaguman, lebih menghargai keberadaan Chou di lapangan daripada sekadar rekor yang dicapai.
Victoria menambahkan, “Kami bersyukur atas kesempatan ini untuk terus bermain.” Cara pandangnya terhadap Chou bukan sebagai pemain berusia 36 tahun yang menolak penuaan, tetapi sebagai sosok yang sangat mahir dalam menemukan cara untuk tetap bersaing. Chou selalu menjadi pemain yang membuat orang lain memperhatikannya dua kali. Permainannya tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik, melainkan juga pada strategi, perubahan tempo, dan pertahanan yang cermat.
Hubungan Unik antara Pemain dan Fisioterapis
Victoria telah lama mengamati cara berpikir Chou. “Dia memiliki otak seperti seorang pelatih,” katanya. “Dia memiliki visi profesional.” Dalam hubungan yang tidak biasa ini, sebelum pertandingan, Chou menjelaskan strategi kepada Victoria, yang kemudian mengingat detail tersebut. Selama pertandingan, ketika Chou mengalami kesulitan, Victoria mengingat kembali apa yang telah dijelaskan sebelumnya, seolah menghidupkan kembali momen tersebut.
Chou memilih untuk tidak mengikuti pengaturan pelatih-pemain yang konvensional pada tahun 2019, bukan karena merasa tidak memerlukan bimbingan, tetapi karena ia merasa cukup memahami dirinya sendiri. “Saya perlu fokus untuk mendapatkan poin, jadi ini bukan tentang pelatih, ini tentang diri sendiri,” ungkapnya. Ia pernah mengalami masa sulit ketika kalah dalam 10 pertandingan berturut-turut, yang mengajarkannya kesabaran dan menjadi kunci keberhasilannya.
Victoria tetap berada di sisinya sebagai fisioterapis dan pendukung, sementara Chou mengambil lebih banyak tanggung jawab atas persiapan dan taktiknya. Keputusan ini kini terbukti tepat, dengan tambahan dua medali Kejuaraan Dunia dan dua medali Kejuaraan Asia dalam kariernya yang cemerlang.
Selama pertandingan, terlihat jelas bahwa Victoria tidak bersikap pasif. Ia merayakan setiap kemenangan Chou dan tetap tenang saat Chou tertinggal. “Santai saja dan nikmati,” ujarnya, meskipun situasi pertandingan sangat menegangkan. Ini menunjukkan bahwa persiapan telah dilakukan dan Victoria siap mendukung Chou dalam setiap kondisi.
Chou Tien Chen menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar lawan di lapangan. Pada April 2023, ia didiagnosis menderita kanker kolorektal stadium awal, namun memilih untuk merahasiakannya. Setelah memenangkan Thailand Masters pada Februari 2024, ia memutuskan untuk berbagi kisahnya, berharap dapat menginspirasi orang lain. Diagnosis tersebut mengubah cara pandangnya terhadap tubuhnya, tetapi tidak mengubah keinginannya untuk terus berkompetisi.
Victoria menyebut kelanjutan karier Chou sebagai “mukjizat,” bukan karena ia menghindari penuaan, tetapi karena ia terus berjuang meskipun menghadapi kenyataan tersebut. “Istirahatlah,” katanya, “kamu sudah melakukannya dengan sangat baik.” Dalam dunia olahraga elit, ketahanan Chou bukan hanya tentang melampaui batas, tetapi juga tentang mengetahui kapan harus beradaptasi dan kapan harus mundur.
Pencapaian sebenarnya bukanlah tentang menghindari usia, melainkan tentang belajar untuk bekerja sama dengan proses penuaan.