WAMENA — TPNPB-OPM mengungkapkan bahwa sepuluh orang menjadi korban dalam konflik bersenjata di Papua Pegunungan. Mereka menuduh pihak militer Indonesia bertanggung jawab atas penembakan yang terjadi di Kampung Samboga, Distrik Seredala, Yahukimo.
Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menyatakan bahwa dari sepuluh korban yang dilaporkan, enam orang di antaranya dipastikan meninggal dunia. Menurut informasi yang diterimanya, para korban merupakan pendulang emas.
Detail Insiden Penembakan
Sebby menjelaskan bahwa laporan yang diterima oleh manajemen TPNPB-OPM dari intelijen di Yahukimo menyebutkan bahwa aparat militer Indonesia melakukan penembakan terhadap sepuluh warga sipil di Kampung Samboga. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada Jumat, 18 September 2026. “PIS TPNPB juga melaporkan bahwa seluruh korban saat keluar dari tempat pendulangan emas sekitar pukul 24.00 malam, mereka sudah dipantau oleh aparat militer Indonesia menggunakan drone,” ungkap Sebby.
Korban yang tewas di antaranya adalah Yonas Aje (22 tahun), Pilatus Porpom (25), Daniel Timuka (19), Kani Borpom (20), Yanus Patika (28), dan Elli Timuka (28). Sementara itu, Sebby tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai empat korban lainnya.
Permintaan Akses Evakuasi
Sebby menambahkan bahwa hingga saat ini, semua korban penembakan belum dievakuasi. Ia menyebutkan bahwa militer Indonesia masih menguasai wilayah perkampungan tempat kejadian. “Hingga sekarang korban belum dievakuasi keluar oleh aparat keamanan militer Indonesia, maupun oleh pihak gereja,” jelasnya. TPNPB-OPM meminta agar otoritas keamanan militer Indonesia dan pemerintah setempat membuka akses untuk evakuasi ke wilayah tersebut.
Republika telah mencoba menghubungi Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Muhammad Nas untuk mendapatkan konfirmasi mengenai informasi ini, namun belum mendapatkan tanggapan.