Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (3/11/2026). Mata uang Garuda mengalami penurunan tipis sebesar 4 poin atau sekitar 0,02 persen ke level Rp18.160 per dolar AS.
Meski demikian, tren penguatan justru terlihat pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Kurs rupiah JISDOR membaik ke posisi Rp18.148 per dolar AS dibandingkan sesi sebelumnya yang berada di level Rp18.161.
Tensi Geopolitik Timur Tengah dan Isu Militer AS
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu oleh sentimen eksternal. Hal tersebut menyulut perhatian menyusul laporan mengenai aksi militer Amerika Serikat.
"Ada laporan bahwa AS telah menyerang Pulau Qeshm milik Iran. Beberapa pejabat tersebut menjelaskan bahwa serangan itu bersifat defensif, bertujuan untuk mencegah Iran memiliki keleluasaan dalam menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Ibrahim menambahkan bahwa dinamika politik di AS turut memengaruhi ketidakpastian pasar.
“Pada hari Senin, Trump melontarkan keraguan mengenai apakah ia akan benar-benar melanjutkan ancaman serangan militer terhadap Iran, seraya menambahkan bahwa kesepakatan dengan Teheran mungkin saja tercapai,” jelas Ibrahim.
Di sisi lain, komunikasi antara Iran dan AS untuk mengakhiri konflik dilaporkan masih terus berjalan. Pernyataan ini mengemuka setelah serangkaian pembicaraan antara Iran dan pihak penengah dari Qatar berakhir dengan usulan yang telah diubah, meskipun belum menghasilkan terobosan berarti. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan wewenang tertentu kepada pemerintah untuk melakukan pembicaraan damai.
Selain isu Timur Tengah, AS berencana mempertemukan delegasi dari Ukraina dan Rusia di Abu Dhabi pada 10–11 November mendatang guna membahas pengakhiran perang, kesepakatan keamanan pasca-perang, serta upaya de-eskalasi.
Pasar Soroti Pemilu Paruh Waktu dan Data Tenaga Kerja AS
Faktor lain yang menyita perhatian pelaku pasar global adalah penyelenggaraan pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) AS pada 3 November. Pelaku pasar juga mengamati jadwal rilis data ekonomi penting di AS untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Data lowongan kerja (JOLTS Job Openings) dijadwalkan rilis pada Selasa. Selanjutnya, data perubahan tenaga kerja versi ADP (ADP Employment Change) serta indeks ISM Services PMI diumumkan pada Rabu, disusul laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat.
Tekanan Inflasi Pangan dan Tantangan Impor Domestik
Dari dalam negeri, kenaikan inflasi pangan pada Oktober 2026 menjadi catatan tersendiri. Kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan harga kebutuhan pokok masyarakat masih cukup kuat. Inflasi pangan menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir akibat gangguan pasokan yang dipengaruhi fenomena El Niño, sehingga mengganggu produksi serta distribusi komoditas seperti beras, cabai, dan sayuran.
Kondisi ini mendapat perhatian pasar lantaran berpotensi menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Walaupun inflasi umum melandai dan berada dalam target Bank Indonesia, kenaikan harga pangan memperlihatkan tekanan biaya hidup yang belum mereda.
Tantangan lain datang dari sektor neraca perdagangan. Walau pada September 2026 mencatatkan surplus USD3,36 miliar—lebih kuat dari perkiraan—tekanan tetap muncul akibat pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor.
Ibrahim menilai bahwa kenaikan nilai impor sebenarnya dapat menjadi indikator meningkatnya kebutuhan bahan baku, barang modal, serta aktivitas industri dalam negeri.
“Namun, jika pertumbuhan impor terus melampaui ekspor, selisih surplus perdagangan akan semakin menyempit,” kata Ibrahim.
Menurutnya, kuncinya terletak pada apakah peningkatan impor tersebut mampu mendorong kapasitas produksi dan ekspor Indonesia, atau justru menipiskan surplus perdagangan yang ada.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Berdasarkan dinamika sentimen eksternal dan domestik tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya. Rupiah berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.160 hingga Rp18.210 per dolar AS.