Thursday, 29 October 2026
Teknologi

Pentingnya Keseimbangan Aktivitas Anak di Era Digital, Usulan Kak Seto

Kak Seto Mulyadi menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial anak, serta mengusulkan pembentukan Seksi Perlindungan Anak di Tingkat Rukun Tetangga.

S
Stephanie Marissa
08 October 2026 65 pembaca
Advertisement
Advertisement
inews.id Sumber: inews.id

JAKARTA - Seto Mulyadi, yang dikenal sebagai Kak Seto, selaku Ketua Dewan Pakar Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), mengingatkan akan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas anak di dunia digital dan interaksi sosial di lingkungan sekitar. Menurutnya, anak-anak tidak boleh terlalu terfokus pada dunia maya sehingga mengabaikan hubungan dengan keluarga dan tetangga.

Pernyataan tersebut disampaikan Kak Seto saat memberikan penghargaan atas penerapan Peraturan Pemerintah mengenai Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Dia menekankan bahwa perlindungan anak di era digital bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan sekolah, tetapi juga memerlukan peran aktif dari keluarga dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan anak.

Pentingnya Peran Keluarga dan Masyarakat

"Kami apresiasi sekali terhadap langkah Ibu Menteri, suatu langkah yang sangat berani dengan PP Tunas ini dan perlu didukung oleh seluruh masyarakat," ungkap Kak Seto dalam konferensi pers yang diadakan di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital. Dia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu terjebak dalam aktivitas digital hingga kehilangan komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Kak Seto kemudian mengusulkan pembentukan Seksi Perlindungan Anak di Tingkat Rukun Tetangga (SPARTA), yang diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan anak dan menjadi wadah komunikasi antarwarga. "Jadi RT-RT itu adalah keluarga yang sangat dekat dengan para keluarga. Artinya mohon jangan sibuk dengan dunia digital saja, tidak saling berkomunikasi, tapi juga semua rukun," tegasnya.

Mendorong Aktivitas Sosial Anak

Dia berharap lingkungan RT dapat menjadi tempat bagi anak untuk kembali aktif bersosialisasi secara langsung. Kegiatan bersama, seperti permainan tradisional, dianggap sebagai alternatif yang baik untuk mengurangi ketergantungan pada perangkat digital. "Kadang-kadang juga ya permainan-permainan tradisional, ada gobak sodor, ada engklek, ada main egrang, dan sebagainya," tambahnya.

Kak Seto menekankan bahwa teknologi tetap memiliki manfaat bagi anak jika digunakan dengan bijak dan dalam pengawasan yang tepat. Oleh karena itu, penggunaan teknologi harus seimbang dengan interaksi sosial agar anak tetap memiliki kesempatan untuk bermain, berkomunikasi, dan beraktivitas bersama lingkungan sekitarnya. Langkah ini sejalan dengan upaya mewujudkan Indonesia Layak Anak 2030, yang memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.

// Artikel Terkait