Tuesday, 27 October 2026
Teknologi

Peningkatan Penggunaan AI di Kalangan UMKM Indonesia

Sebanyak 36,8 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung kegiatan bisnis mereka, menurut survei terbaru.

S
Saraswati Indira Alika
27 October 2026 1 pembaca
Advertisement
Advertisement
inews.id Sumber: inews.id

JAKARTA, iNews.id – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai dimanfaatkan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia untuk mendukung aktivitas bisnis mereka. Teknologi ini semakin diminati, terutama dalam bidang pemasaran, pembuatan konten, serta komunikasi dengan pelanggan.

Berdasarkan Survei UMKM 2026 yang dilakukan oleh platform pengiriman Lalamove, lebih dari 300 pelaku UMKM berpartisipasi, dan hasilnya menunjukkan bahwa 36,8 persen responden telah menggunakan AI untuk mendukung kegiatan bisnis mereka. Sementara itu, 29,6 persen responden lainnya belum menggunakan teknologi ini, namun mulai mempertimbangkan untuk mengadopsinya. Temuan ini menunjukkan adanya potensi peningkatan penggunaan AI di kalangan pelaku usaha, seiring dengan berkembangnya kebutuhan digital dalam menjalankan bisnis.

Pemanfaatan AI dalam Pemasaran dan Layanan Pelanggan

Penggunaan AI paling banyak terlihat dalam kegiatan pemasaran dan pembuatan konten, dengan persentase mencapai 42,6 persen. Selain itu, 23,5 persen responden memanfaatkan teknologi ini untuk mendukung layanan pelanggan dan komunikasi. Pemanfaatan AI menunjukkan bahwa teknologi ini mulai menjadi pilihan penting untuk membantu pekerjaan sehari-hari pelaku usaha. Dalam konteks pemasaran, misalnya, AI dapat digunakan untuk merancang ide promosi dan materi konten, sementara dalam komunikasi bisnis, teknologi ini berpotensi memperlancar interaksi dengan konsumen.

Namun, penerapan teknologi bukanlah satu-satunya tantangan yang dihadapi oleh UMKM menjelang tahun 2027. Pelaku usaha juga harus menghadapi perubahan dalam kebutuhan pelanggan yang mengharuskan operasional menjadi lebih fleksibel, termasuk dalam hal pengiriman barang. Dalam survei yang sama, 60,7 persen responden menyatakan bahwa mereka semakin membutuhkan layanan pengiriman ke beberapa titik tujuan. Sementara itu, 43,3 persen responden menginginkan layanan pengiriman yang dapat dilakukan di luar jam operasional atau dengan waktu yang lebih fleksibel.

Tuntutan Pelanggan dan Adaptasi UMKM

Tuntutan pelanggan terhadap kecepatan layanan juga berpengaruh terhadap kebutuhan ini. Sebanyak 36,3 persen responden menyebutkan bahwa ekspektasi terhadap kecepatan layanan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi operasional bisnis mereka. Selain itu, 34,3 persen responden mengaitkan perubahan kebutuhan pengiriman dengan meningkatnya jumlah pesanan dari pelanggan. Dari segi jenis barang, makanan dan minuman menjadi kategori yang paling banyak dikirim, mencapai 42,4 persen, diikuti oleh dokumen dan berkas kantor sebesar 25,9 persen, serta pakaian dan produk fesyen yang mencapai 23,2 persen.

Keragaman jenis barang dan tujuan pengiriman ini mengharuskan pelaku UMKM untuk menyesuaikan kebutuhan logistik dengan karakteristik produk dan ekspektasi pelanggan. Dalam menghadapi perkembangan teknologi, kemampuan untuk mengelola operasional secara efisien menjadi salah satu aspek penting yang menentukan kelancaran bisnis.

Managing Director Lalamove Indonesia, Andito B. Prakoso, menekankan pentingnya adaptasi pelaku UMKM terhadap perubahan perilaku konsumen dan dinamika operasional bisnis. "Pelaku UMKM perlu semakin adaptif dalam menghadapi perubahan perilaku pelanggan dan dinamika operasional bisnis. Di tengah perkembangan pemanfaatan teknologi, fleksibilitas pengiriman menjadi salah satu aspek penting untuk membantu bisnis merespons kebutuhan pelanggan yang semakin beragam," ujarnya.

Selain adaptasi teknologi dan pengiriman, pengelolaan biaya juga menjadi perhatian utama bagi pelaku UMKM. Kebutuhan operasional yang semakin bervariasi memaksa mereka untuk menyesuaikan pengeluaran dengan kapasitas usaha, terutama saat jumlah pesanan meningkat. Pelaku UMKM juga menilai bahwa dukungan dalam pemasaran dan promosi, pembiayaan untuk pengembangan usaha, serta peluang untuk membangun jejaring bisnis merupakan faktor-faktor yang dapat mendukung pertumbuhan usaha mereka.

Hasil survei ini menggambarkan bahwa kesiapan UMKM dalam menghadapi tahun 2027 tidak hanya terkait dengan kemampuan memanfaatkan teknologi AI. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan efisiensi biaya, fleksibilitas operasional, dan kualitas pelayanan agar dapat mengikuti perubahan kebutuhan pasar. Dengan semakin banyaknya pelaku UMKM yang mulai melirik AI, pemanfaatan teknologi ini berpotensi menjadi bagian dari strategi pengembangan bisnis yang lebih luas.

// Artikel Terkait