JAKARTA — Perdebatan mengenai film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita perlu ditanggapi dengan kedewasaan, terutama di tengah meningkatnya perang persepsi di era digital saat ini. Azis Subekti, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, menyatakan bahwa sebuah bangsa tidak hanya dapat dilemahkan melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui pembentukan opini publik secara bertahap melalui media, film dokumenter, dan platform digital.
“Di zaman sekarang, propaganda tidak lagi hadir dalam bentuk slogan kasar atau orasi kebencian. Ia hadir lebih halus melalui visual, emosi, dan narasi yang perlahan membentuk cara masyarakat memandang negaranya sendiri,” ujar Azis dalam keterangannya.
Kritik Terhadap Pembangunan Papua
Azis menegaskan bahwa kritik terhadap pembangunan di Papua merupakan hal yang sah dalam konteks demokrasi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kritik tersebut harus disertai dengan tanggung jawab etis agar tidak berubah menjadi propaganda sosial yang dapat memperburuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara. “Tidak ada pembangunan yang boleh kebal kritik. Tetapi kritik yang kehilangan keberimbangan bisa berubah menjadi penggiringan persepsi yang terus-menerus menumbuhkan rasa curiga terhadap negara,” tambahnya.
Film Pesta Babi dan Kompleksitas Papua
Azis berpendapat bahwa film Pesta Babi muncul dari tradisi dokumenter advokatif yang memiliki orientasi perjuangan sosial tertentu. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat menyikapinya dengan kesadaran kritis. “Film ini membangun narasi emosional yang sangat kuat tentang Papua Selatan, mulai dari hutan yang hilang, tanah adat yang berubah, hingga masyarakat yang merasa tersingkir. Sebagian keresahan itu memang nyata. Tetapi masalah muncul ketika kompleksitas Papua direduksi menjadi panggung moral sederhana antara negara sebagai perampas dan masyarakat adat semata sebagai korban,” jelasnya.
Pembubaran paksa acara nobar film Pesta Babi di Universitas Khairun menjadi salah satu contoh dari ketegangan yang muncul akibat perdebatan ini.