Thursday, 06 August 2026
Peristiwa

Munas BEM SI 2026: Andira Yofi Sulendra Terpilih Sebagai Koordinator Pusat

Musyawarah Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang berlangsung di Semarang menetapkan Andira Yofi Sulendra sebagai Koordinator Pusat untuk periode 2026-2027.

M
Made Wirawan
05 August 2026 11 pembaca
Foto: Ist
Foto: Ist

Musyawarah Nasional (Munas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang dilaksanakan dari tanggal 27 Juli hingga 1 Agustus 2026 di Kampus Politeknik Negeri Semarang (Polines) telah memilih Andira Yofi Sulendra, mahasiswa dari Institut Teknologi PLN (IT-PLN), sebagai Koordinator Pusat BEM SI untuk periode 2026–2027. Munas ini dihadiri oleh sekitar 150 kampus yang merupakan bagian dari aliansi BEM SI.

Proses sidang dipimpin oleh tiga orang pimpinan, yaitu Shabbarin Syakur sebagai pimpinan sidang pertama, Gufron Alsafi’i sebagai pimpinan sidang kedua, dan Adelia Afiffatuzzahra sebagai pimpinan sidang ketiga. Dalam pemilihan tersebut, terdapat tiga kandidat yang berasal dari Universitas Lampung, Universitas Riau, dan Institut Teknologi PLN. Setelah melalui proses musyawarah dan pemungutan suara, Andira Yofi Sulendra berhasil meraih suara terbanyak dan dipercaya untuk memimpin BEM SI.

Prioritas Utama Kepemimpinan

Setelah menerima mandat, Yofi menyampaikan dalam sambutannya bahwa salah satu fokus utama dalam kepemimpinannya adalah memperkuat konsolidasi di tingkat wilayah. Ia menegaskan bahwa kekuatan BEM SI tidak hanya ditentukan oleh koordinasi yang solid di pusat, tetapi juga oleh kemampuan untuk membangun komunikasi dan jejaring yang kuat hingga ke daerah-daerah.

“Kita akan memperkuat konsolidasi wilayah. BEM SI tidak boleh hanya kuat di pusat, tetapi harus hadir dan dirasakan sampai ke daerah. Komunikasi antarkampus harus kita bangun lebih intensif agar setiap persoalan dan aspirasi mahasiswa dari berbagai wilayah dapat terhubung dan menjadi bagian dari agenda bersama,” ungkap Yofi.

Membangun Jaringan yang Kuat

Yofi menambahkan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik, tantangan, dan dinamika yang berbeda. Oleh karena itu, keberagaman ini harus dijadikan sebagai kekuatan bersama yang disatukan melalui komunikasi dan konsolidasi yang berkelanjutan. “Kita ingin tidak ada jarak antara pusat dan wilayah. Semua kampus harus memiliki ruang yang sama untuk menyampaikan gagasan, persoalan, dan aspirasi. Dari situlah kita membangun gerakan mahasiswa yang lebih solid, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

// Artikel Terkait