Di Nusa Tenggara Timur (NTT), aktivitas gempa masih terus terjadi setelah gempa besar berkekuatan M7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Hingga Senin, 17 Agustus 2026, pukul 11.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan telah terdeteksi 1.624 gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara M1,3 hingga M6,2.
Dari total tersebut, sebanyak 23 gempa susulan memiliki magnitudo lebih dari M5. BMKG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan serta mengevaluasi dampak dari gempa dan tsunami yang terjadi di daerah terdampak.
Detail Gempa Utama dan Tsunami
Gempa utama yang terjadi di Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB memiliki parameter yang diperbarui menjadi M7,7. Gempa ini merupakan gempa dangkal yang disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc, yang juga memicu terjadinya tsunami di beberapa wilayah. BMKG mengeluarkan Peringatan Dini 1 dua menit 16 detik setelah gempa dengan status ancaman SIAGA (0.5 - 3 meter) dan Waspada.
Peringatan dini tsunami ini mencakup beberapa wilayah, seperti bagian utara Manggarai, bagian utara Ngada, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto dengan status Siaga. Sementara itu, Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo berada dalam status Waspada. Peringatan dini tsunami tersebut dicabut pada pukul 07.30 WIB, atau 2 jam 31 menit 37 detik setelah gempa utama.
Dampak dan Respons Terhadap Gempa
Hasil observasi dari stasiun pasang surut menunjukkan bahwa tsunami terdeteksi di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi, yaitu NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, dengan tinggi 1,605 meter pada pukul 05.03 WIB, sedangkan yang terendah tercatat di Bakalang, Alor, NTT, dengan tinggi 0,14 meter pada pukul 05.41 WIB.
Berdasarkan informasi sementara, gempa Flores M7,7 menyebabkan 53 orang meninggal dunia dan 137 orang mengalami luka-luka. Kerusakan juga dilaporkan di berbagai wilayah, terutama di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, dan Maumere, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi dari ringan hingga berat.
BMKG telah mengerahkan tim gabungan dari pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk melakukan survei terhadap dampak gempa yang merusak. Survei ini mencakup pengukuran mikrotremor dan MASW untuk memahami karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, pemantauan gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan. Hasil survei ini akan mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana.
BMKG juga memprioritaskan survei di daerah yang mengalami kerusakan sedang hingga berat dan membandingkannya dengan lokasi yang tidak mengalami kerusakan. Selain itu, BMKG melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat yang terdampak untuk memberikan informasi mengenai kondisi pascagempa. Masyarakat diingatkan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang masih terjadi.
Masyarakat juga diimbau untuk menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat gempa bumi, serta tetap waspada terhadap aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung.