Saturday, 03 October 2026
Peristiwa

BNPB Tingkatkan Kesiapsiagaan di Pesisir Banten Terkait Potensi Tsunami Anak Krakatau

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk ancaman tsunami.

S
Saraswati Indira Alika
11 September 2026 44 pembaca
Foto: EPA/INDONESIAN GEOLOGICAL AGENCY
Foto: EPA/INDONESIAN GEOLOGICAL AGENCY

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pendampingan kepada pemerintah daerah dalam rangka memperkuat kesiapsiagaan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pemerintah dan masyarakat siap menghadapi potensi dampak dari aktivitas vulkanik, termasuk ancaman tsunami.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa Tim Kedeputian Bidang Pencegahan BNPB telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, pemantauan kondisi wilayah yang terdampak, serta asesmen kesiapsiagaan di beberapa kawasan pesisir di Banten. Hal ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi terkini dan langkah-langkah penanganan yang telah dilakukan di masing-masing daerah.

Asesmen Kesiapsiagaan di Wilayah Pesisir

Berton menjelaskan bahwa penilaian dilakukan menggunakan indikator Tsunami Ready yang disesuaikan dengan karakteristik risiko dan kesiapan di masing-masing wilayah. Di Kabupaten Pandeglang, misalnya, asesmen difokuskan di kawasan Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya. Di Tanjung Lesung, tim menemukan bahwa rambu evakuasi menuju titik aman di kawasan resort telah tersedia dan simulasi tsunami dilakukan secara berkala. Namun, perangkat diseminasi informasi berupa Warning Receiver System (WRS) Gen masih dalam tahap perbaikan.

Di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, rambu evakuasi telah terpasang menuju dua lokasi evakuasi akhir, yaitu Kampung Pasir Malang dan kawasan hunian tetap. Selain itu, tower sirene peringatan dini tsunami di halaman Kantor Kecamatan Sumur juga sudah siap beroperasi. "Desa tersebut telah memiliki SOP peringatan dini tsunami dan dalam satu tahun terakhir telah melaksanakan kegiatan gladi," tambahnya.

Pemahaman Masyarakat Terhadap Risiko Tsunami

Di Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, pemahaman masyarakat mengenai risiko tsunami dinilai cukup baik. SOP peringatan dini tsunami sudah tersedia, dan tower sirene di halaman Kantor Kecamatan Panimbang serta peta jalur evakuasi di depan kantor desa berada dalam kondisi baik. Di Kabupaten Serang, asesmen dilakukan di Desa Salira, Desa Karang Suraga, dan Desa Anyar, sementara di Kota Cilegon, asesmen dilakukan di Kelurahan Kubangsari. "Tim menemukan pemahaman masyarakat terhadap risiko tsunami cukup baik," ungkap Berton.

BNPB tidak hanya menilai ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga kesiapan mekanisme peringatan dini, jalur evakuasi, titik aman, SOP, kapasitas masyarakat, serta peran relawan dalam penyebaran informasi kebencanaan. Secara umum, wilayah pesisir yang ditinjau telah memiliki komponen dasar kesiapsiagaan, dengan beberapa wilayah aktif melakukan sosialisasi dan gladi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat.

BNPB juga mendorong pemerintah daerah untuk memastikan bahwa jalur evakuasi, rambu, titik kumpul, serta sarana peringatan dini dapat dipelihara dan diperiksa secara berkala. Kesiapan peralatan harus sejalan dengan peningkatan kapasitas masyarakat agar sistem peringatan dini dapat direspons dengan cepat saat terjadi keadaan darurat. Berdasarkan informasi dari PVMBG, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga) hingga Selasa (8/9/2026), dan aktivitas kegempaan masih terpantau dinamis. Masyarakat diimbau untuk mematuhi rekomendasi keselamatan, termasuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

// Artikel Terkait