Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi yang dinilai sebagai bagian dari proses alami untuk memperbaiki struktur gunung yang rusak setelah longsoran besar pada Desember 2018. Menurut pakar gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, kondisi saat ini berbeda dengan situasi menjelang tsunami Selat Sunda yang terjadi pada tahun 2018.
Kondisi Gunung Anak Krakatau Saat Ini
Daryono menjelaskan bahwa volume fisik dan ketinggian kerucut Gunung Anak Krakatau saat ini jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Hal ini mengakibatkan potensi terjadinya longsoran masif yang dapat memicu tsunami destruktif berada pada tingkat yang sangat kecil. “Serangkaian erupsi yang terus terjadi merupakan proses alami Gunung Anak Krakatau untuk membangun kembali tubuh gunung api yang hancur pascalongsoran besar pada peristiwa Desember 2018 lalu,” jelasnya.
Pentingnya Kewaspadaan Masyarakat
Daryono juga mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah pesisir Selat Sunda, untuk tidak panik menghadapi aktivitas erupsi yang terjadi. Dia meminta agar masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait. “Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap mematuhi rekomendasi zona bahaya atau radius aman yang ditetapkan PVMBG,” tambahnya.
Di samping itu, Daryono menyarankan bagi mereka yang berada di daerah yang terdampak sebaran abu vulkanik untuk menggunakan alat pelindung diri seperti masker guna mengurangi risiko paparan abu. Dia menegaskan bahwa aktivitas erupsi adalah bagian dari dinamika alam gunung api. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk bersabar dan terus mengikuti perkembangan informasi resmi. “Insya Allah kondisi akan normal kembali, kita harus bersabar dengan proses alam ini,” tutup Daryono.